Oleh: Inatyaningrum (Psikolog/Asesor)
Awalnya menjadi “Asonger” atau biasa disebut dengan Psikolog Freelance yaitu pada tahun 2012. Sebelumnya dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2012 saya bekerja sebagai karyawan swasta di beberapa perusahaan. Kenapa tiba-tiba berhenti dan memutuskan jadi Asonger? Biasalah problematika ibu-ibu bekerja yang mempunyai anak, biasanya anak ada yang jagain tetapi ini ART (Asisten Rumah Tangga) pada waktu itu susah banget nyari yang cocok. Akhirnya saya pun mengundurkan diri dan menikmati kehidupan sebagai Ibu Rumah Tangga. Namun pada dasarnya saya tidak bisa diam. Saya masih menjalin komunikasi dan silahturahmi dengan teman-teman saya sehingga akhirnya muncul tawaran menjadi Asonger.
Hal yang paling saya sukai ketika menjadi Asonger adalah bisa mengatur waktu kerja sesuai dengan jadwal pribadi kita, kerjanya 1-2 hari selebihnya mengerjakan laporan di rumah, sehingga sayapun bisa tetap dekat dengan anak dan memantau perkembangan anak. Oh ya ada lagi yang saya sukai, yaitu ketika mendapat tawaran kerja keluar kota. Itu rasanya seperti refreshing meninggalkan penatnya tumpukan laporan sekaligus jalan-jalan bersama teman-teman baru, kerja sekaligus jalan-jalan. Pada dasarnya saya memang suka traveling mengunjungi daerah-daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Dan saya paling suka mengumpulkan magnet kulkas atau gantungan kunci, sebagai tanda bahwa saya sudah pernah mengunjungi daerah tersebut.
Di penghujung tahun 2017 kemarin, tepatnya di bulan Desember saya mendapat tawaran untuk bekerja melakukan seleksi guru kontrak di Barabai. Rasanya dobel wow… karena saya belum pernah ke Barabai dan saya juga belum pernah melakukan wawancara untuk profesi guru. Sebelumnya, pernah bikin laporan blind case untuk dosen, tapi belum pernah ketemu wawancara langsung.
Pada waktu itu yang pertama kali menghubungi saya adalah mbak Yenni Karim atas info dari jeng Mira Fuji (Thanks ya Mir…). Dan saya sudah menanyakan beberapa info yang saya butuhkan untuk mengetahui project tersebut, dan akhirnya saya memutuskan untuk berangkat.
Mengingat itu hari libur panjang dan tahun baru, sehingga sayapun juga sudah memikirkan liburan anak saya. Pada tanggal yang sama yaitu 19 Desember 2017, saya berangkat via Bandara Soetta dengan penerbangan siang, dan anak saya bersama dengan Eyangnya via Bandara Halim Perdanakusuma berangkat liburan ke Semarang yang sekaligus kampung halaman saya. Jadi, Bunda (aka. Saya) bisa tenang bekerja dan anak saya senang liburan bertemu dengan saudara-saudaranya.
Sesampainya saya di Bandara Syamsudin Noor, saya bersama dengan teman-teman Asonger lainnya bergegas mengambil bagasi untuk kemudian menunggu jemputan menuju Barabai. Memang pada dasarnya sesama Asonger tuh tidak butuh waktu lama untuk saling kenal. Kita semua sudah ketawa-ketiwi aja sepanjang perjalanan.
Rombongan terbagi 2 mobil, saya semobil dengan Nadiah (yang juga teman sekamar saya selama di Barabai), kemudian Pak Lukman dan Pak Ayek. Daaaan… selama perjalanan saya pusing berat, karena supirnya membawa kendaraan dengan cepat dan tanpa menginjak rem. Mungkin juga ditambah makan siangnya agak terlambat karena kita tiba di Banjarmasin pun sudah sore.
Sore itu kita makan Soto Banjar dan malamnya kita berhenti makan di Kandangan, saya suka sekali dengan Ketupat Kandangan karena sajiannya seperti mangut (Ikan yang diasap dan dikuah kental santan). Setelah makan malam itu saya minum paracetamol untuk meredakan sakit kepala saya. Mungkin karena pusing akhirnya saya memilih diam dan tidurpun sulit selama perjalanan ke Barabai.
Setibanya di Barabai sudah malam dan kita berusaha menuju ke lokasi hotel yang pada waktu itu sulit ditemukan, dikarenakan banyak jalan ditutup karena sedang ada Barabai Expo. Akhirnya kita pun sampai di Hotel Grand Bhima, dan langsung menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.
Memang sebagai Asonger kita tidak selalu melulu mendapatkan fasilitas yang sekelas bintang empat atau lima. Adakalanya kita harus menyesuaikan dengan siapa kita bekerja dan di kota mana kita akan bekerja. Semuanya itu kembali kepada niat masing-masing Asesor, mau mengabdikah sesuai profesi atau mau numpang jalan-jalan saja. Dan bagi saya, saya selalu menikmati apa yang saya kerjakan. Karena bekerja adalah ibadah… hehehe… jangan serius dulu… Saya juga manusia biasa dan juga ingin mendapatkan yang terbaik. Di Barabai ini, alhamdulillah hotelnya sangat-sangat nyaman… ada free WiFi (ini penting lho hehehe), bersih dan petugasnya ramah-ramah dan sigap.
Keesokan harinya yaitu di tanggal 20 Desember 2017, bertepatan dengan hari lahir saya tapiii… berhubung semuanya teman baru jadi tidak ada yang tahu. Memang ada yang kurang rasanya, seharusnya bisa bersama keluarga namun karena memang keputusan saya sudah bulat untuk ikut project ini sehingga saya tidak terlalu bersedih. Toh sekarang sudah jamannya social media, semuanya tetap bisa ramai karena ada socmed ucapan dan doa tak henti-hentinya mengalir sehingga bahagia rasanya.
Dan di hari yang sama dengan ultah saya merupakan hari pertama saya melakukan wawancara untuk guru kontrak. Banyak hal yang bisa didapat ketika kita wawancara di suatu project, khususnya di Barabai ini kita bisa tahu mengenai bahasa daerah mereka, budaya mereka dan berbagai hal menarik lainnya di Barabai. Empat hari kami melakukan wawancara dan tiga hari berikutnya kami langsung membuat laporannya. Untungnya bertepatan kami datang ke Barabai, bersamaan dengan hari jadi Kabupaten Hulu Sungai Tengah sehingga ada acara Barabai Expo yang letaknya tidak jauh dari hotel. Alhamdulillah ada hiburan dan kami bisa jalan-jalan sedikit sesudah melakukan wawancara setiap harinya.
Entah kenapa walaupun tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi pada waktu itu, tetapi saya tidak pernah merasa bosan. Saya merasa senang sekali mendapatkan teman-teman baru, kebetulan yang satu hotel dan satu lantai dengan saya ada Bu Susi, Bu Vivie, Yeni Ovianti, Dessy dan Nadiah… semuanya pada ramai dan menyenangkan. Ohh iya ada juga teman yang mendapat kamar di lantai bawah para bapak yaitu Pak Lukman dan Pak Ayek.
Cuaca selama di Barabai juga kurang bersahabat untuk jalan-jalan karena hampir setiap hari hujan. Sehingga memang lebih afdol berada di kamar dan tarik selimut. Ada satu makanan (menu makan malam) yang ngangenin… kalau saya adalah mie goreng entah itu belinya dimana (dibelikan soalnya) saya lupa, jadi menu itu berulang pun saya tidak bosan. Tapi yang saya tidak dapatkan adalah magnet kulkas dan gantungan kunci khas Barabai, selama di Barabai Expo pun tidak saya temukan. Dan saya pun menemukan kopi bubuk khas Barabai yaitu Kopi cap tiga kunci. Saya beli banyak sekali, mudah-mudahan cukup sampai saya diajak ke Barabai lagi (yuhuuuu Pak Adil).
Sampai akhirnya pada hari terakhir di Barabai, ketika itu saya memang mengajukan untuk pulang dari Banjarmasin langsung menuju ke Semarang untuk sekalian menjemput anak saya. Dan Alhamdulillah disetujui oleh Pak Adil sehingga saya bisa langsung diakomodir untuk mendapatkan tiket tersebut. Terimakasih juga untuk Mbak Yenni Karim dan Mas Abdul Karim. Oyaa… sempeeeet lho saya berpikiran, maaf… mbak Yenni dan dan mas Abdul ini suami istri, lha wong belakang namanya sama-sama Karim. Ternyata bukan ya! Hehe…
Dan di hari terakhir di Barabai kita bertolak ke Banjarmasin via bus pagi hari. Alhamdulillah jadi tidak deg-degan misalnya disupirin lagi pakai mobil Toyota Avansa dengan supir mantan pembalap. Kitapun juga bisa berkumpul semua Asesor dalam satu kendaraan. Tujuan singgah pertama adalah ke Martapura, tempat Oleh-oleh berupa batu-batu perhiasaan. Lumayan masih ada yang bisa dibeli untuk Oleh-oleh, karena waktu saya singkat karena saya naik penerbangan siang menuju Semarang.
Kebetulan di Banjarbaru saya memiliki teman SMA yang bekerja sebagai Kepala Kantor Pajak Banjarbaru, sehingga beliau menjemput saya untuk sekaligus berjumpa (reuni kecil). Sayapun berpisah dengan rombongan yang masih sibuk belanja di Martapura untuk mengikuti teman SMA saya. Dan bersama teman SMA itu, saya diajak makan siang di restoran (lupa namanya) dengan hidangan Itik Bakar. Enak tapi lumayan perjuangan makannya hehe… banyak lemaknya. Dan oleh teman itu, saya masih sempat diajak ke toko Sahabat, yaitu toko yang menjual kain khasnya yang bernama Sasirangan.
Sebelum menuju ke Bandara Syamsudin Noor, saya masih lagi diajak mampir ke Kantor beliau dan diberikan souvenir Kantor Pajak Banjarbaru (Terima kasih Pak Muhammad Na’im A.). Semoga kalau bukunya jadi saya mau memberikan satu untuk beliau. Alhamdulillah senangnya saya diajak ikut project di Barabai, selain mendapatkan pengalaman baru, wawasan baru, dan teman-teman baru, juga bisa bersilahturahmi dengan teman SMA di Banjarbaru. Nikmatnya menjadi Asonger, suka dukanya akan selalu menjadi bagian dari pengalaman saya.
Demikian sekelumit cerita saya, pengalaman saya yang barangkali bisa menjadi pelengkap kisah para Asonger khususnya di Barabai. Mohon maaf jika tulisannya masih amatir dan jauh dari penulis-penulis senior lainnya.
Depok, 4 Februari 2018
