Oleh: Adil Kurnia (Psikolog/Konsultan Actual Consulting)

“Parisj van Borneo” adalah kata-kata dalam bahasa Belanda yang ketika kita mendengarnya pasti terlintas nama salah satu kota di Kalimantan Selatan yaitu Barabai. Secara tata bahasa, arti dari kata-kata tersebut adalah “Parisnya Kalimantan’. Namun, pernah kah kita bertanya kenapa bisa Barabai disebut sebagai Parisj van Borneo?
Barabai memang telah lama disebut sebagai Parisj van Borneo, setidaknya dari bahasanya sudah dapat diketahui kalau memang nama atau istilah ini sendiri diberikan oleh Belanda kepada daerah Barabai. Lalu, kenapa Belanda memberikan nama ini dan dipertahankan hingga saat ini? Secara sekilas memang antara Paris yang ada di Perancis sendiri jauh lebih baik dari Barabai. Namun ada beberapa hal yang menjadi karakteristik Paris yang dimiliki oleh Barabai, oleh sebabnya mereka menyebutkan demikian.
Diantara beberapa alasan yang menjadi dasar penyebutan Barabai sebagai Parisnya Kalimantan adalah keseniannya. Barabai merupakan Pusat Seni Budaya Kalimantan yang memang telah dikenal hingga ke luar daerah hingga ke manca negara. Kemudian lagi berbicara lebih jauh ada taman-taman yang memang telah dibangun sejak jaman Belanda. Salah satu contohnya adalah pohon-pohon besar yang mengelilingi Taman Dwi Warna Barabai yang merupakan pohon-pohon yang di tanam sejak jaman Belanda dulu.
Dikelilingi perbukitan Pegunungan Meratus yang berbaris-baris dengan hawanya yang sejuk, tak mengherankan Barabai saat itu akhirnya dijadikan pemerintahan kolonial Belanda sebagai kawasan pemukiman elit dan wahana rekreasi di wilayah bekas kekuasaan Kesultanan Banjar itu.
Gelar Barabai sebagai Paris van Borneo atau Bandoeng van Borneo, selalu dilekatkan para penulis sejarah berkebangsaan Belanda yang menggambarkan keindahan ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Provinsi Kalimantan Selatan.
Di era kolonial Belanda, Barabai merupakan daerah bawahan atau administrasi (onderafdeeling) Kandangan yang menjadi pusat kontrol di wilayah Banua Lima (kini menjadi Banua Anam). Hal ini merujuk pada Staatblaad Tahun 1898 Nomor 178, Barabai yang bernama Onderafdeeling Batang Alai en Labooan Amas dipimpin seorang Controller (setingkat bupati di era sekarang).
Sejak 14 Februari 1957, Barabai kemudian memisahkan diri dari induknya Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Namun, dalam memori orang-orang Belanda tempo dulu, Barabai tetap dikenang sebagai ‘surga’ di kaki Pegunungan Meratus. Bagaimana tidak, pemukiman elit Belanda, arena pacuan kuda, lapangan tenis, bioskop, rumah sakit dan berbagai fasilitas jalan dan jembatan dibenahi serius, hingga menciptakan Kota Barabai sebagai kota modern di eranya. Hal ini bisa dilihat dari peta yang dibuat antara 1920-1921 yang dipublikasikan Koninglijk Instituut voor taal, land en volkenkunde, Leiden Belanda pada tahun 1924, sebagai bagian dari tata kota ala Negeri Kincir Angin ini.
Di bawah kepemimpinan Gerard Louwrens Tichelman, yang menjadi Controller Belanda di Barabai pada 1926-1929, derap pembangunan ala Eropa merasuki ‘Kota Apam’. Pegawai negeri Pemerintahan Kolonial Belanda yang lahir di Palembang pada 31 Januari 1893, dan meninggal dunia di Harlem Belanda, 3 Januari 1962 ini, foto-foto pembangunan Kota Barabai tersimpan dan menggambarkan bagaimana kota ini didesain apik menuju kota modern ala Paris, Perancis.
Saat itu ada bioskop Juliana Theater (926) di Jalan Prinsen Adrian Weg (atau Prinsedran ala dialek Barabai), yang kemudian berganti menjadi Pasar Garuda di Jalan Pangeran Ir. PM Noor, merupakan buah karyanya. Dan, setiap kali memeriahkan hari ulang tahun Ratu Belanda, diadakan pacuan kuda dan sepeda di Paardenrances, di lokasi yang sama. Dengan mengambil rute, start dari Simpang Tengkarau hingga finish di Kerkof (pekuburan Belanda) Simpang Manjang. Pembangunan Ziekenhuis atau Hostipal Barabai yang merupakan fasilitas kesehatan terbuka bagi masyarakat umum, merupakan peninggalan Gerrad Louwrens Tichelman.
Dalam membangun rumah atau gedung, Belanda juga tak melupakan arsitektur lokal. Ya, setidaknya, ada dua jenis seni arsitektur Balai Adat yang diterapkan Belanda dalam pembangunan gedung atau rumah di Barabai. Dua jenis bangunan khas Dayak Meratus di daerah hulu Sungai Batang Alai bernama Balian Rungkah (Alai) dan Balian Riwah (Hantakan) turut mempengaruhi gaya-gaya bangunan ala kolonial Belanda di Barabai.
Gaya Balaian Rungkah ini bisa dilihat dalam Rumah Jabatan Controller Belanda, dan selanjutnya ditempati Bupati HST (sebelum direvonasi). Hal ini membuktikan jika aroma arsitektur lokal masih tetap dipertahankan Belanda dalam bentuk bangunan yang ada di kota Barabai, maupun daerah lainnya seperti di Birayang, dan kawasan lainnya.
Barabai sebagai Paris van Borneo atau Bandoeng van Borneo juga lekat dengan kondisi geografis dan topografi Barabai sendiri. Bandung mungkin menjadi kota yang sejuk di Jawa Barat, karena diapik Gunung Tangkuban Perahu ditambah legenda Sangkuriang. Sedangkan, Barabai dikelilingi Gunung Pagat yang menjadi bagian dari Pegunungan Meratus, dengan legenda Batu Benawanya.
Asumsi gadis-gadis Bandung yang terkenal geulis (cantik), hal serupa juga terdapat di Kota Barabai yang gadis-gadisnya bungas-bungas. Kondisi alam yang sejuk juga mempengaruhi pigmen kulit warga Kota Barabai.
Mengenai legenda asal kata Barabai, ada yang mengartikan kata Barabai itu berasal dari serapan dua kata, yakni “bara” (api) dan “baik” kependekan dari Arbainah. Konon ada alkisah seorang ibu pembuat kue apam minta tolong dengan anaknya Arbainah berucap “Ambilkan mama bara pang bai”. Ada juga yang mengatakan Barabai berasal dari bahasa Indonesia “berabe”. Konon ceritanya, ada rombongan pendatang dari Jawa datang ke wilayah ini yang waktu itu masih banyak hutan belukar, salah seorang dari mereka berkata “Kalian jangan ke sana, tempatnya mengerikan, kalian bisa berabe (barabai)”.
Kedua kisah itu bisa saja mengilhami penamaan kota Barabai. Kisah lain menyatakan bahwa Barabai berasal dari tiga kata: kata “ba” yang berarti awalan menunjuk kata kerja; kata “raba” yang berarti timbunan batang; dan kata “ai” yang berarti kata seru untuk peringatan.
Hal ini bermulai dari kata “barabaai” kemudian berubah menjadi “Barabai”. Sebab, dalam catatan sejarah Banjar, ada seorang pejuang bernama Singa Terbang dalam menyerang penjajah Belanda suka sekali dengan taktik menebang pohon yang kemudian potongan batangnya menghalangi perjalanan kapal-kapal Belanda dari aliran sungai bagian hilir Pajukungan Durian Gantung sampai Tabat Baru Samhuring. “Dari sini Belanda menyebut yang dulunya Batang Alai dan Kampung Kadi menjadi onderafdeling Barabai. Di samping itu, Barabai populer juga disebut sebagai “Bandungnya Banjar”, sedangkan Bandung punya julukan terkenal sebagai Paris van Java, maka bolehlah kiranya jika dikatakan Barabai sebagai Paris van Kalimantan padanan dari Paris van Java.
Patut dicatat bahwa Barabai merupakan salah satu pusat penyiaran Islam yang langsung ditangani Khatib Dayan, dengan mendatangi para mubaligh asal Jawa Barat seperti Syekh Abdul Malik (Haji Batu), Imam Santoso, Habib Marwan, Mujahid Malik, Rangga Alibasyah, Adipati Danureja dan rombongan untuk membangun Masjid Pusaka Plajau sebagai basis dakwah Islam.
Dari tempat ini, para Dai Islam ini kemudian bermukim dan kawin dengan warga setempat dan beranak pinak. Makanya, jangan heran, jika nantinya para mubaligh yang ada di Barabai, masih bergaris keturunan dengan para ulama asal Jawa Barat.
Sadar akan sejarah itu, tak mengherankan jika Belanda akhirnya membangun sebuah benteng bernama Fort of Barabai, serta misi zending Protestan di sekitar wilayah Birayang sebagai basis kekuataannya. Selain dikepung basis Islam, pecahnya Perang Banjar pada 18 April 1859 menjadikan Barabai sebagai pusat pertempuran antara tentara kolonial Belanda dengan pejuang-pejuang Banjar.
Tercatat, pada 3 Juli 1861, dipimpin Raksa Yuda, benteng Barabai ini pun diserbu. Bahkan, pertempuran juga meluas hingga ke Pamangkih, Walangku, Kasarangan, Pantai Hambawang, dan Aluan pada 8 Maret 1860. Kemudian, pada 1 Mei 1860, terjadi peperangan antara serdadu Belanda dengan pendukung Pangeran Antasari di Tanah Habang pada 1 Mei 1860, dilanjutkan di Pagat pada 18 Mei 1861. Secara berlanjut, kota Barabai juga diserbu para pejuang pimpinan Gusti Wahid pada 27 Mei 1861, serta penyerbuan Benteng Limpasu pada 1 Agustus 1861, dan Jatuh dipimpin Penghulu Muda pada 5 Desember 1861, dan 26 Desember 1861.
Begitu Perang Banjar yang berlangsung 1805-1905 berakhir atau versi dokumen Belanda hanya terjadi pada 1859-1863, berbagai infrastruktur yang ada di Kota Barabai pun akhirnya banyak yang rusak dan hancur. Di era masa tenang itu, pembangunan Kota Barabai di bawah kontrol Kandangan dilanjutkan. Dan, kini, hanya bagian kecil yang tersisa dari pergulatan sejarah panjang Kota Barabai.
(Disarikan dari berbagai sumber)
