Oleh: Agati Suhartono (Psikolog/Asesor)

Sebelum membaca tulisanku ini terlebih dahulu aku memohon maaf kalau ada yang kurang memuaskan karena aku bukanlah seorang penulis, penyair atau pengarang cerpen. Jadi bahasanya suka-suka aku aja ya! Mudah-mudahan cukup bisa menghibur teman-teman semua…
Ada sesuatu yang ingin kusampaikan terkait penugasanku sebagai asesor ke Barabai. Kami ini adalah para Asesor yang saat itu akan melakukan asesmen terhadap para pegawai di RSUD Pemda Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan.
Perjalanan ke Barabai ini merupakan yang pertama kali buatku, jadi aku betul-betul menikmatinya. Pemandangan di sepanjang jalan dari Bandara Banjarbaru ke kota Barabai itu indah sekali. Pertama karena udaranya yang sejuk dan bersih, bebas dari polusi. Bukankah di Jakarta sudah langka untuk bisa menghirup udara bersih.
Pemandangan di pedesaannya masih khas mencerminkan daerah yang terpencil karena rumah-rumah penduduknya sederhana dan masih jarang-jarang. Hampir di sepanjang jalan yang kami lalui terbentang luas kebun dan sawah penduduk. Di sana belum ada pertokoan, yang ada hanya warung-warung makan sederhana khas di daerah seperti warung Soto Kandangan yang terkenal dan khas kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Selain itu ada warung-warung kecil yang menjual dodol hasil home industry, pondok-pondok kecil yang menjual buah-buahan dan sayur jengkol. Itu pun hanya satu-satu. Hampir tidak terlihat kendaraan-kendaraan lain seperti sepeda motor, angkot apalagi bus.
Setelah menyaksikan suasana perjalanan yang demikian, pikiranku saat itu menjadi melamun jauh. Aku jadi teringat kampung halaman masa kecilku di Ladang Plaju dulu. Kira-kira waktu itu tahun 1960, suasananya persis seperti Barabai saat ini (tahun 2017). Tetapi di abad 2000an ini Ladang Plaju kemajuannya sudah pesat sekali. Sekarang di sana sudah tidak ada lagi sisa-sisa peninggalan jaman aku SD dulu, karena sekarang sudah jadi kota yang padat penduduknya.
Setelah sampai di kota Barabai, kami diantar ke hotel Bhima Residence. Mungkin ini hotel yang terbaik di kota Barabai dalam hatiku. Bersyukur Actual Konsultan di bawah pimpinan Pak Adil menyiapkan hotel yang lumayan bersih dan nyaman buat kami para asesor. Hotel ini punya banyak keistimewaan terutama sangat strategis letaknya, yaitu dekat dengan Rumah Dinas Sekretaris Daerah tempat kami berkumpul untuk briefing. Selain itu hotel ini juga dekat dengan lokasi tempat di mana kami akan wawancara besok.
Persis di depan hotel Bhima Residence tempat kami menginap ada Masjid. Tapi yang paling asyik adalah hotel kami tersebut dekat dengan pasar yang menjual segala macam keperluan dari makanan, baju, kain-kain Sasirangan, obat-obatan, kue-kue dan makanan-makanan khas Barabai. Ketika itu saya sudah sempat menelusurinya dan mencicipi makanan ataupun kue-kue khas Barabai yang aduhai manisnya.
Malam itu kami tidur nyenyak, mungkin karena kelelahan dalam perjalanan. Pagi-pagi setelah kenyang sarapan di hotel, kami diantar menuju lokasi tempat wawancara yaitu di Kantor Dinas Kesehatan. Ruangan wawancara pun cukup nyaman karena pakai AC dan cukup luas di ruanganku. Dalam 1 ruangan ada 4 asesor. Berkas data kandidat pun sudah disiapkan oleh tim supporting kami yang cekatan dan rapi kerjanya sehingga tidak ada hal yang menghambat terkait administrasi untuk kami bertugas.
Hampir semua yang aku wawancara dalam 1 minggu itu adalah wanita semua karena mereka adalah para Perawat di RSUD Kabupaten HST. Wawancara dangan Perawat di sini merupakan suatu pengalaman tersendiri yang berbeda dengan wawancara di tempat lain. Perawat-perawat yang aku wawancara ini sangat kooperatif dan mereka memiliki kesiapan yang tinggi untuk mengikuti proses asesmen ini. Tidak heran jika hampir 100% peserta yang diundang wawancara dapat hadir semua. Bukti lainnya mereka datang lebih pagi dari waktu yang ditentukan. Mereka sabar menunggu sampai giliran mereka tiba. Walaupun sebetulnya sudah diatur menurut jadwal wawancara tetapi mereka yang dipanggil terakhir pun sudah datang dan mereka tampak asyik saling bercengkrama dan mengobrol seperti layaknya di arisan saja.
Rupanya motivasi persahabatan (menurut teori McClelland) mereka ini tergolong tinggi. Pada umumnya usia mereka berkisar antara 20 sd 45 tahun. Mayoritas warna kulitnya lebih mendekati putih dibanding berwarna sawo matang. Perawat-perawat di RSUD ini juga tampil cantik, ramah dan “gaya”. Penampilan mereka tidak mencirikan penduduk dari daerah terpencil, apalagi khusus pada hari Jumat mereka memakai baju dari bahan Sasirangan dengan motif khas Barabai.
Begitu pula di hari Jumat tersebut para prianya memakai kemeja yang terbuat dari bahan tenun daerah ini. Motif Sasirangan yang dikenakan terlihat ceria karena warna-warninya yang segar dan dijahit dengan model yang beragam. Secara umum rupanya tampilan mereka tidak kalah dengan noni-noni dan abang-abang Jakarta pada umumnya.
Selama diwawancara, para asesi-ku kebetulan memiliki pribadi yang terbuka, dengan minat gaul yang tinggi. Mereka mengutarakan pikiran, perasaan dan pendapat secara spontan apa adanya. Entah kenapa perasaan mereka begitu mudah tersentuh sehingga jika ada masalah pribadi mereka tidak segan-segan untuk curhat… waah bahkan sampai ada yang menangis… Semoga dengan cara itu sudah cukup meringankan mereka walaupun tanpa dilakukan konseling.
Dari sekian asesi yang aku wawancara, sebagian besar memiliki loyalitas yang luar biasa. Kebanyakan mereka sudah bekerja di Pukesmas bertahun tahun. Ada perawat yang belum diangkat menjadi pegawai tetap namun bersedia bekerja secara sukarela karena panggilan kemanusiaan. Tapi ada juga dari mereka yang bekerja menjadi Perawat karena status, bukan karena untuk berkarir. Hal itu karena mereka juga sudah memiliki usaha pribadi di luar pekerjaannya sebagai Perawat. Jadi agak sulit juga untuk mendapatkan para Perawat yang memiliki motivasi bekerja yang tinggi dan sekaligus memiliki motivasi untuk mengejar karir.

