Penulis: Muhammad Fakhri (Psikolog/Asesor)

Ada dua ‘surprise’ ketika saya diajak oleh pihak Actual Consulting untuk ikut ke Barabai. Pertama adalah jadwal keberangkatannya yang sangat mendadak, yaitu besok paginya. Saya harus berpikir keras di pinggir jalan sebab ketika ajakan itu disampaikan oleh Kang Engkin, saya sedang berkendaraan. Mengapa demikian? Karena saya sendiri masih punya banyak ‘pekerjaan rumah’ yang harus saya selesaikan dalam dua hari ke depan. Sedangkan kejutan yang kedua adalah, hari keberangkatan kami ke Barabai tersebut ternyata di hari pertama masa liburan panjang ‘Cuti Bersama’ akhir tahun.  

Singkat cerita besok paginya saya pun bertemu dengan teman-teman satu tim di Bandara Soetta. Sebagaimana masa-masa liburan panjang atau masa-masa mudik, maka Bandara penuh sesak oleh manusia, layaknya Pasar Tanah Abang sepuluh hari menjelang Lebaran. Sudah lama sekali saya tidak mengalami hal seperti ini, sebab 10 tahun terakhir ini saya selalu mudik setelah melaksanakan Sholat Hari Raya terlebih dahulu di Jakarta, baru kemudian saya berangkat ‘pulang kampung’, guna menghindari suasana crowded seperti ini.

Antrian panjang penumpang di Pintu Keberangkatan Terminal-C Bandara Soetta memanjang sampai di bawah tangga Anjungan Terminal. Setelah berjuang dengan antrian yang panjang itu, ternyata saya hampir tidak bisa bergeser dari alat X-ray untuk menuju meja check-in, sebab antrian di depan konter check-in juga memanjang sampai mendekati mesin X-ray. Kepadatan di dalam ruangan check-in ternyata jauh lebih parah lagi, lengkap dengan para calon penumpang yang mendorong troli-troli yang penuh berisi koper-koper besar. Saya sulit sekali bergeser padahal saya hanya membawa satu koper kabin dan satu ransel saja. Apalagi bagi penumpang yang membawa barang-barang dalam jumlah banyak dengan troli.

Kami antri di ruang check-in selama satu setengah jam lebih, demikian juga rombongan penumpang lain.  Lambatnya proses check-in di antaranya karena yang antri adalah rombongan keluarga yang hendak berlibur, atau rombongan orang-orang yang hendak mudik di masa libur panjang Hari Natal dan Tahun Baru. Sementara kami adalah rombongan orang yang hendak bekerja di masa libur panjang akhir tahun. Sangat Super Sekali, bukan? Pada situasi seperti ini tidak penting lagi apakah anda mengunakan maskapai kelas premium ataupun maskapai kelas low-end, sebab sama saja crowded-nya, dan semuanya melambat.

Setelah satu setengah jam antri di konter check-in, tibalah giliran rombongan kami di depan petugas check-in, tetapi ternyata… koper milik rombongan kami yang paling besar yang berisi buku Alat-Alat Tes ternyata melebihi batas berat maksimal untuk tiap koli (koper) yang boleh dimasukkan ke bagasi pesawat. Koper itu beratnya 42 kg, sedangkan maksimal berat satu koper bagasi adalah 30 kilogram, padahal jadwal boarding pesawat tinggal beberapa menit lagi. 

Rekan saya Ferry langsung menarik keluar koper itu dari alat timbangan dan langsung membuka kopernya di sebelah antrian. Di antara isi koper itu yang paling menyolok adalah bungkusan besar lembaran Kraepelin yang terikat dan terbungkus rapi. Saya menduga jumlahnya dua rim dan saya menyarankan agar lembar Kraepelin itu dikeluarkan dari koper dan ‘ditenteng’ saja masuk ke kabin pesawat. Kenyataannya memang barang inilah yang paling berat di antara bundel-bundel Buku Alat Tes lainnya dalam koper itu. Ternyata tindakan itu pun belum cukup, sebab koper itu masih kelebihan berat 2 Kilogram. Saya lalu meminta agar tiga bundel Buku Alat Tes masuk ke dalam koper saya, sedangkan rekan saya Ferry menyanggupi ‘membopong’ dua rim lembaran Kraepelin seberat 10 kilogram itu menuju ruang tunggu keberangkatan. Akhirnya berat koper Alat Tes ini berkurang menjadi 29 Kg, dan diperbolehkan untuk masuk bagasi.

Akan tetapi… proses mengurangi isi koper ini cukup memakan waktu, sebab kami harus memilih mana-mana alat tes yang bisa dibawa ke kabin pesawat, padahal semua koper kabin masing-masing kami sudah penuh sesak sejak dari rumah masing-masing, sementara jadual waktu boarding pesawat tinggal kurang dari 10 menit lagi. Akhirnya petugas check-in memutuskan personil Tim Psikolog bisa ikut penerbangan pada jam tersebut, tapi bagasi kami akan menyusul pada penerbangan berikutnya, sebab bagasi kami sudah ditinggal oleh kereta bagasi menuju pesawat. Ketika kami sedang berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan, terdengar pengumunan boarding untuk jadwal penerbangan kami. Pada situasi seperti ini hendaknya kita makin intensif berdoa, semoga koper-koper kita tidak ‘ketelingsut’ terbawa oleh rute penerbangan lain, ke Makassar atau ke Ambon, misalnya… (senyum).

Satu jam kemudian kami mendarat di Banjarbaru. Terakhir saya mendarat di Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru ini kira-kira delapan tahun yang lalu. Tidak ada perubahan yang berarti pada Bandara ini. Dari dalam pesawat terlihat sedang ada proyek bangunan bertingkat di dekat Gedung Terminal lama. Mungkin pihak Bandara sedang membuat gedung baru, sebagaimana juga banyak dilakukan Bandara-Bandara di daerah lain.

Sambil menunggu datangnya bagasi kami yang baru akan ‘landed’ dua jam lagi, kami mengisi waktu dengan ‘ngobrol’ dan makan di warung Soto Banjar yang dekat dengan Bandara. Ketika di warung itulah saya baru mengetahui bahwa kota Barabai adalah ibukota salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan yang berjarak kira-kira 170 kilometer dari Bandara ini. Tidak ada yang saya ketahui tentang kota Barabai ini, dan perjalanan menuju Barabai di mulai hampir menjelang magrib. Selama dalam perjalanan saya lebih banyak tidur di mobil, sebab tidak banyak pemandangan yang bisa saya lihat. Selain gelap, selama perjalanan kami juga diberkahi dengan hujan selama di perjalanan.

Empat jam kemudian dan masih dengan diiringi hujan, kami berhenti di salah satu ‘Resto Soto Banjar’ di Kota Kandangan. Menurut saya sih lebih tepatnya warung makan besar dengan menu utama adalah Soto Banjar. Rekan-rekan mengatakan bahwa kali ini menurut mereka sotonya lebih sedap dan lebih original. Dan ternyata memang benar, Soto Banjar Kandangan ini memang menimbulkan rasa dan sensasi aneh di lidah saya. Ternyata Soto ini berupa ketupat yang berkuah santan, dengan porsi besar, yang saya sendiri pun ragu untuk mampu menghabiskannya. Soto ini bercita rasa campuran antara asin dan manis, suatu sensasi rasa yang aneh bagi saya yang terbiasa dengan masakan dengan rasa asin-pedas atau asam-pedas. Saya memilih menu soto dengan lauk Ikan Haruan, sedangkan pilihan lainnya yaitu soto dengan lauk Ayam panggang. Nama Ikan Haruan ini sendiri mengingatkan saya pada kampung halaman di Lampung Barat. Nama Haruan ini mungkin berasal dari sebutan khas Bangsa Melayu untuk jenis ikan gabus, sebab orang Lampung Barat pun menyebut ikan jenis ini dengan sebutan Ikan Haruan.

Akhirya kami tiba di hotel kami di kota Barabai kira-kira pukul 22.00 malam, dengan kondisi badan lelah tapi perut kenyang. Pagi harinya ketika akan memulai tugas, saya baru menyadari ternyata bangunan Hotel ‘Shaza Guest House’ tempat kami menginap adalah bangunan baru yang mungil namun cukup bagus. Ruang makannya mungil namun artistik. Sisi sebelah dalamnya terbuka tanpa dinding menghadap taman mungil yang cukup rapi. Sedangkan dinding luar ruang makan ini full kaca sehingga kita bisa leluasa memandang ke arah halaman depan hotel dan jalan raya.  Disain ruang makan, disain pintu dan jendela kamar, maupun disain hotel ini secara keseluruhan menonjolkan disain bangunan kekinian, yaitu desain minimalis, yang memadukan corak vertikal maupun horizontal secara harmonis.

Siang harinya setelah pulang dari bertugas, saya lihat banyak tamu dari kalangan remaja di Resto hotel, yaitu ruang makan hotel yang siang harinya berubah menjadi Resto-Shaza. Saya mengira mereka adalah anak-anak dari para tamu yang juga menginap di hotel ini. Ternyata bukan. Rekan saya Ferry mengatakan bahwa mereka adalah para remaja pengunjung ‘Resto Shaza’. Kang Ferry mengatakan mungkin Resto ini adalah Resto cantik yang paling murah di kota Barabai, sehingga disukai oleh para remaja ini sebagai tempat ‘kongkow-kongkow’ dan tentu saja, tempat berfoto-ria (selpi-generation). Ternyata memang itu yang saya saksikan siang itu. Mereka bahkan sengaja membawa jenis ‘kamera-serius’ semacam Canon-LDR untuk berfoto ria. Mereka tidak hanya berfoto di ruang makan saja, bahkan juga di depan kamar-kamar hotel, sebab jendela dan pintu tiap kamar memang artistic dan beraksentuasi luas dan lebar. Saya menduga, kalau foto itu dijadikan foto diri di ‘Whatsapp’ atau di halaman ‘Facebook’, maka akan mendongkrak kecantikan dan kegagahan pemilik akun tersebut (senyum lagi). Rekan saya Ferry mengetahui kebiasaan para remaja ini, sebab Ferry sudah kali ke dua datang dan menginap di hotel ini.

Resto yang sekaligus ruang makan hotel ini menyediakan TV Flat dengan siaran dari TV-Kabel. Selain itu ada wifi gratis dan harga makanan maupun minuman di Resto ini cukup terjangkau bagi uang jajan para remaja tersebut. Harga Es-teh manis dan jus buah masih dibawah 10 ribu rupiah saja. Saya ikut senyum-senyum ketika teman sekamar saya Kang Ferry mengatakan: “Jajannya sih ga seberapa, tapi nongkrongnya bisa 3 jam”. Saya ikut tersenyum sebab dulu pun saya juga melakukan hal yang sama, yaitu kongkow-kongkow di warung yang luas dan murah (senyum lagi).

Hanya saja dalam hati saya berharap semoga mereka tidak hanya menghabiskan waktu luangnya hanya dengan ‘kongkow-kongkow seperti itu saja. Para ahli ilmu mengatakan bahwa, energi kita tidaklah hilang, tapi hanya berpindah arah saja. Jika kita tidak disibukkan dengan belajar keahlian tertentu yang bermanfaat di masa depan, maka kita akan disibukkan dengan hal-hal yang sia-sia.

Sore harinya saya mencoba berjalan kaki menyusuri kota Barabai untuk pengenalan teritori (tiru-tiru istilahnya tentara itu lho). Tujuan saya sebenarnya adalah bermaksud membeli peralatan mandi di warung modern Alfamart ataupun Indomart. Bersendirian saya menyusuri salah satu jalan utama yang dekat dengan hotel tempat kami menginap, yaitu Jalan Pangeran Haji Muhammad Nur. Di jalan itu terdapat Kantor Kepolisian Resort (Polres) Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Pasar utama Kota Barabai, Dealer dan Leasing Kendaraan, gerai Loundry 24 jam, Toko Pakaian, beberapa Apotik, warung makan, dan toko-toko kelontong pada umumnya.

Hampir satu kilometer saya berjalan menyusuri jalan utama ini namun saya tidak menemukan satupun gerai warung modern yang saya maksud. Padahal tidak mungkin gerai warung modern itu tidak memilih lokasi di dekat kantor Polisi atau di jalan utama dekat pasar. Belakangan baru saya ketahui bahwa warung modern seperti itu tidak diizinkan beroperasi di seluruh wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Setelah terasa lelah berjalan akhirnya saya memutuskan berbelanja di salah satu toko kelontong yang cukup ramai di dekat pasar tradisional Kota Barabai. Toko kelontong tempat saya berbelanja ini suasananya seperti toko-toko kelontong tahun delapan puluhan di kota Yogyakarta. Secara keseluruhan Kota Barabai memang agak tertinggal dalam hal pembangunan fisik perkotaannya dibandingkan dengan Kota Tanjung (Kabupaten Tabalong) yang pernah saya kunjungi delapan tahun yang lalu. Mungkin karena hasil PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari dua kota tersebut yang memang berbeda. Kota Tabalong adalah ‘home-base’ bagi salah satu perusahaan tambang batubara besar di negeri ini. Meskipun demikian, Kota Barabai ini mungkin lebih dulu dibangun di bandingkan Kota Tanjung di Kabupaten Tabalong.

Pulangnya saya coba browsing untuk mengetahui sejarah Kota Barabai. Ternyata informasi yang saya dapatkan cukup mengejutkan. Berdasarkan tulisan seseorang di salah satu situs internet, disebutkan bahwa Kota Barabai ini dibangun sejak zaman kolonial Belanda tahun 1925, dengan tujuan sebagai ‘home-base’ bagi kawasan perkebunan (karet dan teh?).

Ada bukti foto bahwa di tahun-tahun tersebut kota ini sudah memiliki Restoran besar dan juga Gedung Bioskop, sebagai ciri modern sebuah kawasan perkotaan untuk masa itu. Selain itu bukti dari jejak kaum penjajah itu diantaranya adalah selokan-selokan besar yang di bangun dengan beton permanen di sepanjang jalan utama kota, lengkap dengan beton penutupnya. Hanya saja kondisi ‘drainase’ ini sudah sangat membutuhkan renovasi setelah rentang waktu 75 tahun lebih. Sependek pengetahuan saya, bangunan drainase besar dengan beton-beton permanen dan rapi di sisi jalan utama seperti ini, berfungsi sebagai sistem pengendali banjir (Banjir canal, water managment), baik karena air hujan ataupun karena adanya sungai yang mudah meluap bila terjadi hujan deras. Ini adalah ciri khas kota yang di bangun berdasarkan ilmu ‘Planologi’ (Tata Kota) oleh Pemerintahan Kolonial Belanda.

Selain itu pada beberapa ruas jalan juga saya lihat ada pohon-pohon Mahoni besar yang hampir berusia seratus tahun, berjajar rapi di sepanjang jalan.  Kawasan perkotaan yang tertata rapi, dan dengan jalan-jalan yang lurus dan dengan ‘grading’ yang rapi seperti ini, mengingatkan saya pada kawasan pemukiman elit sisa peninggalan kolonial Belanda di Kota Jogjakarta dan Jakarta. Pada situs internet yang saya baca itu juga ada foto kendaraan transportasi milik perusahaan Belanda pada tahun-tahun tersebut, dengan rute Banjarmasin-Rantau-Kandangan-Barabai.

Setelah selesai berbelanja di toko itu saya langsung pulang menyusuri jalan yang sama. Ketika hendak keluar dari toko saya berpapasan dengan seorang perempuan muda yang tersenyum hormat kepada saya. Sebagai bentuk tata krama maka saya pun membalas senyumannya sambil berlalu tanpa berkata sepatah pun. Saya menduga mungkin dia adalah salah satu peserta tes di ruangan saya tadi pagi.

Malam harinya ketika berbincang ringan tentang kelancaran proses kerja kami dan tentang keramahan penduduk Barabai dengan Kang Engkin dan Kang Ferry teman sekamar saya, saya singgung juga bahwa tadi sore saya bertemu dengan seorang perempuan muda di jalan, yang saya duga dia adalah peserta tes. Diluar dugaan saya, Kang Engkin merespon cerita saya tadi dengan menasehati saya agar jangan sembarangan bersenyum-ria seperti itu. Tentu saja saya heran dan agak terkejut dengan nasehat itu sambil balik bertanya kepada Kang Engkin: “Lho, emang kenapa kok kita gak boleh membalas senyuman orang lain, bukankah ini ‘manner’? Tata krama dan sopan santun? Kang Ferry juga heran dengan pernyataan Kang Engkin tersebut sambil bertanya: “Iya nih, emang kenapa gak boleh membalas senyuman orang lain? Mosok ada orang tersenyum sama kita, lalu kita balik bertanya: “Apa lo liat-liat…!!!” Meledaklah tawa kami bertiga.

Tadinya saya menduga Kang Engkin akan menasehati saya soal perlunya bersikap professional dan perlunya menjaga jarak antara tester dan testee. Rupanya kekhawatiran Kang Engkin ternyata lebih serius dari itu. Kang Engkin mengatakan alasan bahwa, saat ini kita ada di Bumi Kalimantan, dan penduduk pulau ini (Suku Dayak maupun Suku Banjar) sudah dikenal akan dahsyatnya ilmu guna-guna mereka.  Mendengar penjelasan itu saya dan Kang Ferry makin meledak terbahak-bahak, tapi Kang Engkin sama sekali tidak ikut tertawa sama sekali. Tampaknya dia memang sangat serius dengan apa yang dia nasehatkan. Nasehat Kang Engkin ini membuat saya teringat pada tokoh ‘Panglima Burung’ yang pernah saya dengar (senyum lagi).

Ketika saya hendak menanggapi nasehat Kang Engkin tersebut, obrolan kami di ‘break’ oleh kedatangan Yenni dan Karim yang membawa jatah makan malam, sehingga obrolan kami bertiga terhenti dan berganti dengan bertegur-sapa dengan Yenni dan kawan-kawan satu tim yang menghuni kamar lain di hotel itu.

Saya percaya bahwa Kang Engkin menasehati saya seperti itu adalah karena rasa setia kawan sesama tim kerja. Tapi sejak awal saya memang tidak pernah berpikir soal itu. Alhamdulillah atas nikmat memiliki pola pikir ‘single-track mind’ ini. Saya jalan-jalan adalah karena desakan suatu keperluan untuk berbelanja ke toko dan untuk mengenali kawasan. Tidak pernah terpikirkan dan tidak pernah ada niat untuk berbuat iseng ketika itu, sebab niat jahat itulah sebetulnya kelemahan kita dan pintu masuk bagi kejahatan ghaib oleh orang lain. Wallaahu a’lam. 

Sebagai Muslim tentu saja saya percaya bahwa Black Magic, jimat, dan dukun itu memang ada. Meskipun demikian Islam juga mengajarkan bahwa perbuatan seperti itu dapat membatalkan Syahadat seorang Muslim. Bahkan ramalan bintang sekalipun dapat menyebabkan batalnya syahadat seorang Muslim (Ash-Shahihah: 3387). Selain itu Islam juga mengajarkan cara-cara menangkal kejahatan ghaib seperti itu, diantaranya dengan merutinkan dzikir-dzikir yang shahih setelah sholat wajib. Selain itu juga kita di anjurkan membaca doa-doa perlindungan ketika akan memulai kegiatan-kegiatan.  Bukankah ketika akan keluar rumah atau ketika akan masuk kamar mandi seorang Muslim diperintahkan untuk berdoa memohon perlindungan kepada Allahu Ta’ala? Apa lagi ketika kita memasuki suatu daerah yang baru kita kenal.

Saya sendiri biasanya mengibaskan tempat tidur di hotel dengan kain atau sapu lidi sambil membaca: A’uudzubikalimatillaahi tammati min syarrima kholaq (Aku memohon perlindungan Allâh dari kejahatan makhluk ciptakan-Nya – Riwayat Muslim, No.7053). Atau dengan mambaca bacaan ta’awudz yang biasa kita baca sebelum membaca Al-Qur’an juga boleh.  Dengan doa seperti ini artinya kita memohon perlindungan dari Allahu Ta’ala terhadap kejahatan mahluk ciptaanNya yang lain. Inilah cara yang benar. Adapun meminta pertolongan kepada selain Allah seperti menggunakan jimat atau meminta pertolongan kepada Dukun tandingannya, maka cara seperti ini adalah salah dan dapat menyebabkan batalnya syahadat seorang Muslim. Para ulama menjelaskan bahwa, meminta pertolongan lewat Jimat atau Dukun pada hakekatnya adalah meminta pertolongan kepada sesame mahluk, padahal mahluk tidak berdaya dihadapan Allahu Ta’ala. Maka mintalah langsung pertolongan kepada Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Inilah perlunya mengetahui ilmu Tauhid bagi seorang Muslim atau Muslimah.

Kembali kepada topik tentang keramahan penduduk Barabai. Semboyan dari kota Barabai adalah Bumi Murakata. Salah satu Gedung Pertemuan di kota ini dinamai juga dengan Gedung Murakata. Saya lupa menanyakan apa makna dari ‘Murakata’ ini. Saya hanya menebak-nebak, mungkin maksudnya adalah masyarakat yang ramah, murah tutur kata dalam bersosialisasi. Paling tidak itulah yang saya rasakan. Kenyataannya hal yang menonjol dari penduduk Kota Barabai adalah keramahan penduduknya dalam bertutur kata maupun dalam melayani tamu.  Ini mungkin penilaian yang bersifat subyektif, tapi itulah yang saya rasakan.

Tentang keramahan dan kesantunan dalam berkomunikasi verbal ini mungkin lebih disebabkan kota ini terletak di pedalaman, sehingga belum terpengaruh sikap egoisme masyarakat perkotaan. Namun satu hal yang awalnya membuat saya bertanya-tanya adalah, ada banyak dari orang-orang yang saya wawancarai itu yang meskipun berbicara dalam bahasa Banjar, namun kental dengan dialek ‘Jawa Banyumasan’. Belakangan dari situs internet saya ketahui bahwa ketika pihak colonial Belanda membuka perkebunan di daerah ini, maka pihak kolonial juga mendatangkan para pekerja perkebunan dari pulau Jawa, yaitu orang-orang dari daerah Purbalingga. Bisa jadi anak cucu mereka inilah yang saya dapati berbicara bahasa banjar namun dengan sedikit dialek Banyumasan. Wallaahu a’lam.

Selain itu kemurahan mereka juga saya rasakan dalam hal porsi makanan. Baik di hotel maupun di tempat kerja, bahkan sejak menikmati soto di kandangan, saya selalu menemukan porsi makanan yang tergolong lebih dari kewajaran. Sekali lagi ini mungkin subyektif berdasarkan takaran porsi makan saya. Untuk kasus porsi nasi dan lauk yang tergolong berlebih ini, rekan saya Ferry menyebutnya dengan istilah PORTUGAL (porsi tukang gali). Saya ikut tertawa ketika menyadari apa yang dia maksud, yaitu porsi makan untuk buruh galian. Baik porsi Soto Kandangan maupun porsi makan selama di Barabai, baik nasi maupun lauknya, selalu dalam jumlah berlebih dan dominan cita rasa manis. Bahkan lauk di Warung Padangnya sekalipun dengan porsi banyak dan dominan terasa manis, bukan asin-padas atau asam pedas sebagaimana yang ada di pulau jawa. Saya juga bingung apakah harus gembira atau kecewa mendapati jenis Nasi Padang seperti ini (senyum lagi).

Efek negatif dari ‘Portugal yang manis ini’ adalah, pada hari ke-lima sejak bertugas di Barabai, pakaian saya mulai terasa sempit. Akibatnya refleks gerakan dan kelincahan gerakan serta kelincahan tubuh terasa makin lambat karena badan bertambah gemuk. Maka sejak hari ke-enam saya mulai mengurangi porsi makan saya, terutama untuk makan malam.
Ketika dalam perjalanan pulang untuk kembali ke pulau Jawa setelah seminggu lebih bertugas di Barabai, sepanjang perjalanan barulah saya saksikan banyaknya perkebunan karet dan area persawahan di sepanjang jalan. Daerah ini adalah daerah yang kaya akan air, dan air yang melimpah ini adalah modal utama untuk pemukiman dan perkebunan yang dapat diharapkan keberhasilannya secara maksimal. Ketika di Barabai juga saya mendapati bahwa ada produk teh dengan nama Teh Gunung Satria yang menurut beberapa rekan adalah produk lokal Barabai. Ini makin menguatkan keyakinan saya bahwa Kota Barabai ini memang sudah dipersiapkan sejak lama oleh pihak penjajah Belanda untuk suatu bisnis tertentu. Sependek pengetahuan saya, setiap kali pihak penjajah Belanda membangun sebuah kota, maka besar kemungkinan kota itu dipersiapkan sebagai kawasan pemerintahan dan pemukiman bagi bisnis tertentu. Sebut saja Kota Balikpapan untuk bisnis Minyak Bumi, Kota Pangkal Pinang untuk bisnis timah, atau kota Medan untuk bisnis perkebunan. Wallaahu a’lam… 

Demikian sekilas tentang apa yang saya lihat, saya alami, dan saya simpulkan selama seminggu lebih bertugas di Barabai. Semoga ada manfaatnya, dan saya mohon maaf jika tulisan ini dianggap bersifat subyektif. (senyum lagi).

Lampung, 4 Februari 2018