Oleh: Sri Susilowati
Pada pertengahan bulan menuju akhir Maret yang cukup panas, tiba-tiba saya mendapatkan tawaran kerja yang cukup menarik. Setelah meyakinkan beberapa hal terkait teknis project, saya memutuskan untuk menerimanya. Dan dua hari kemudian, telah bersiap untuk terbang ke Barabai, sebuah nama baru, yang saya ketahui kemudian sebagai nama sebuah ibukota kabupaten di Propinsi Kalimantan Selatan.
Menjejakkan kaki pertama kali di Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor, di Banjarbaru menorehkan kesan sebagai sebuah kota yang cukup panas. Tak ayal, saat mobil jemputan datang, saya pun bergegas masuk untuk mendapatkan kesejukan AC di dalamnya.
Perjalanan menuju Barabai ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam perjalanan dengan mobil. Meski terbayang jauhnya, namun demi sebuah rasa petualangan dan komitmen pada tugas, semua dijalani dengan ikhlas (ikhlas tertidur… he hehe).
Singkat cerita, sekitar jam 15.00 kami diajak mampir ke sebuah tempat makan di sekitar kota Martapura. Ya, Martapura yang dalam buku HPU (Himpunan Pengetahuan Umum – buku pegangan saat saya masih SD dulu), saya hapalkan sebagai kota yang terkenal dengan tambang intan permata. Wow! terbayang apa yang akan saya temukan di kota ini! Dan tentu saja, saya harus cerita ke Ibu saya tentang Martapura ini… Ibu saya mengajarkan materi HPU, namun beliau belum pernah ke Martapura!
Pada awalnya saya berandai-andai bisa mencicipi menu khas dari kota Martapura (Saya biasa mencari kuliner khas setiap datang ke tempat baru), namun apa daya, saya ditawari Mie Ayam, Bakso, Soto atau Rawon, yang semuanya saya tahu menunya orang Jawa. It’s okay lah, demi perut yang mulai kempes, dan bekal melanjutkan tidur, akhirnya saya memilih Mie Ayam yang ternyata berporsi banyak sebagai makan siang. Alhamdulillah rasanya tak kalah dengan Mie Ayam GM Jakarta… he he he lebay…
Mencemati perjalanan dari Banjarbaru menuju Barabai, satu hal yang terlukis indah sebagai kesan, adalah banyaknya masjid-masjid indah yang saya temui sepanjang perjalanan. Saya merasakan suatu ketenangan dan menemukan suatu insight, bahwa masyarakat di wilayah Kalimantan Selatan pasti religius. Ya, belakangan saya menemukan beberapa fakta yang menunjukkan bahwa masyarakat Banjar adalah masyarakat yang taat pada ajaran agamanya yaitu Islam.
Selain ketaatan pada agama, orang (urang) Banjar sendiri pada awal abad ke-17, 18 dan 19 dikenal akan tiga hal, yaitu keberanian, kebersamaan, dan intelektualitasnya. Keberanian dan kebersamaan urang Banjar tampak dalam sikap tegas mereka terhadap VOC dan penjajah pada masa lampau. Intelektualitas dan religiusitas dapat dilihat dari beberapa ulama yang muncul, seperti Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yang lebih dikenal dengan Datu Kalampaian dengan masterpiece beliau berupa Kitab Sabilal Muhtaddiin yang menjadi rujukan fikih di Nusantara; Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dengan kitab Ad-duruun nafis nya; Syaikh Abdurrahmaan Siddiq Mufti Kesultanan Indragiri, Riau; dan lain sebagainya. Lalu, dalam hati saya berbisik: semoga para ulama tersebut memiliki penerus, dan semoga tiap-tiap masjid itu bukan hanya indah dan megah, namun juga ramai oleh jama’ah… Aamiin…
Sekitar pukul 9 malam, kami sampai di kota Barabai, dan kembali dipersilahkan mengisi perut dengan menu orang Jawa: Bakso, Nasi Goreng, Mawut (ini makanan daerah Yogja-Magelang) dan menu lainnya. Namun karena masih kenyang, saya hanya menikmati segelas jeruk panas yang kurang manis… (he he he, kayaknya yang jual tahu deh, yang minum kan sudah maniss… cieee). Alhamdulillah, selesai mampir di warung Jawa itu, kami langsung menuju hotel, dan bertemu dengan pemilik proyek yang ramah dan tim yang menerima kami seperti keluarga… (hhhmmm, siapa tuh…?).
Hari pertama menjalankan tugas, menjadi kesan lain yang tak terlupakan. Menghadapi puluhan pegawai yang sudah “senior” yang disatukan dalam kelas yang sama dengan pelamar baru yang masih “gres” rasanya saya masuk dalam gap generasi yang jauuuhhh (belum diukur jauhnya berapa kilometer… he he he…). Untungnya tim sudah terlatih dengan berbagai situasi, sehingga mampu menangani tugas selayaknya “mission impossible” ini dengan lancar… *diiringi theme song*.
Hari kedua menjadi kesan yang berbeda, ketika satu persatu para pegawai itu duduk dihadapan saya dan mulailah kami “bercerita”. Suatu hal yang mengagetkan bagi saya, di mana setiap saya mengkonfirmasi informasi yang mereka berikan, mereka tampak sangat santun dan sopan. Ini ditunjukkan dengan pilihan kata “Iya” yang diucapkan dalam kata “Nggeh” (dalam bahasa Jawa halus (Kromo Inggil), “Nggeh” berarti iya). Wah, saya surprise sekali…
Pada awalnya saya menyangka mereka adalah orang Jawa yang bermigrasi ke Kalimantan, apakah karena transmigrasi atau merantau pada umumnya. Rasa ingin tahu mendorong saya untuk mencari informasi tentang keterkaitan antara orang Banjar (mereka menyebut dirinya demikian) dengan orang Jawa. Siapa tahu, ada orang kampung saya yang merantau dan saat ini menjadi orang Banjar, kan bisa mampir… he he he…
Pada penelusuran yang membutuhkan waktu hingga hampir sebulan… (he he he, niat banget ya?), saya menemukan beberapa informasi. Ternyata urang Banjar yang merupakan penduduk yang mayoritas mendiami daerah Kalimantan Selatan, dalam pengertian kesukuan; suku Banjar merupakan kesatuan etnis Melayu yang bercampur dengan penduduk DAS Negara, DAS Barito, DAS Martapura dan DAS Tabanio (DAS: Daerah Aliran Sungai). Jadi secara langsung tidak ada kaitannya dengan suku Jawa. Bahwa ternyata kemudian ada akulturasi budaya antara suku Banjar dan suku Jawa yang disebabkan oleh migrasi sejak zaman kerajaan, maka mungkin saja hal itu bisa terjadi. Seperti apa saling pengaruh antar dua suku tersebut, nampaknya kita perlu bertanya lebih lanjut pada para ahli sejarah… iya, pada ahli sejarah… bukan pada rumput yang bergoyang… he he he…
Rasa penasaran saya masih belum terjawab, hingga hari terakhir berada di Barabai. Meski tidak banyak tempat yang bisa dieksplor, karena tingginya rasa tanggung jawab dalam menyelesaikan laporan… (huk huk huk…), namun bagi saya, Barabai tetap menjadi untaian kesan yang tak kan mudah hilang… Bagi saya yang orang Jawa, bilangan tertinggi yang biasa digunakan untuk menggambarkan jumlah yang sangat banyak adalah sewu atau seribu. Ingat ada Lawang Sewu, Curug Sewu, Cemoro Sewu, dan lain-lain. Karenanya, tak berlebihan jika saya sebut, Barabai adalah kota seribu kesan…
Catatan:
Tulisan ini belum merangkum kesan saya selama “berdialog” dengan warganya, pasarnya, dan juga “dialog rasa” dengan Kue Lam, Ketan Srikaya dan Soto Banjar nya. Insha Allah bersambung pada kesempatan berikutnya. Terima kasih.
